Kasih Sayang Khalifah Umar Pada Rakyatnya - cyber2dakwah.com

Monday, 29 January 2018

Kasih Sayang Khalifah Umar Pada Rakyatnya


Menyebut nama Umar Bin Khattab,nalar kita begitu refleks membayangkan sosok pemimipin yang tegas,adil dan kharismatik.di tambah perawakan umar yang tinggi besar dan besuara lantang.menjadikan figurnya seolah-olah pemimpin di kisah-kisah dongeng yang begitu ideal.Ya,Umar memang seorang yang adil.Dia juga tegas.Dan dia berhasil memakmurkan rakyatnya.

Ah..kiranya Umar hadir di zaman sekarang,harap sebagian orang sebagai keluh keputus-asaan akan sosok pemimpin idaman.Sementara pemimpin yang muncul di negeri kita,bukan saja tak peduli pada nasib rakyatnya,bahkan menjerumuskan rakyat pada kesengsaraan.

Kita bersyukur banyak kaum muslimin mencintai sosok Umar.Mereka mencintai sahabat Nabi Saw yang mulia.Nomor kedua kedudukannya jika dirunut bersama Abubakar Radhiallahu'anhuma.Anas Bin Malik.r.a.pernah berkata,''Aku mencintai Nabi Saw,mencintai Abu Bakar,dan mencintai Umar.Aku berharap bisa bersama dengan mereka (di hari kiamat) lantaran kecintaanku pada mereka,walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka,''(HR.Bukhari.no 3688)

Selain dikenal tegas,Umar juga memiliki sifat lemah lembut dan kasih sayang kepada rakyatnya

Muawiyah bin hudaij r.a.datang menemui umar setelah penaklukan iskandariyah.lalu ia mengikatkan hewan tunggannya.Kemudian keluarlah seorang budak wanita.Budak itu melihat penat Umar setelah bersafar.Ia mengajaknya masuk.Menghidangkan roti,zitun,dan kurma untuk Umar.Umar pun menyantap hidangan tersebut

Kemudian berkata kepada Muawiyah,''Wahai Muawiyah,apa yang engkau katakan tadi ketika engkau mampir ke masjid?''Aku katakan bahwa Amirul mukminin sedang tidur siang,''jawab Muawiyah.Umar Berkata,''Buruk sekali apa yang engkau ucapkan,dan alangkah jeleknya apa yang engkau sangkakan.Bila aku tidur siang hari,maka aku menelantarkan rakyatku.Dan jika aku tidur di malam hari,aku menyia-nyiakan diriku sendiri (tidak shalat malam).Bagaiman bisa tertidur pada dua keadaan ini,wahai Muawiyah?''

Mungkin Muawiyah bin Hudaij bermaksud kasihan pada Umar.Ia ingin Umar beristirahat karena capek sehabis bersafar.Rakyat pun akan memaklumi keadaan itu dan juga kasihan kepada pemimpinya,sehingga mereka rela jika Umar beristirahat.tetapi Umar sendiri malah khawatir kalau  hal itu termasuk menghalangi rakyatnya untuk mengadukan keinginan mereka kepadanya.

Umar berkata,''Jika ada seekor unta mati karena di sia-siakan tidak terurus.Aku takut Allah memintai pertanggungjawaban kepadaku karena hal itu.

Karena unta tersebut berada di wilayah kekuasaannya,Umar yakin ia bertanggung jawab atas keberlangsungan hidupnya.Ketika unta mati itu sia-sia ,karena kelaparan,atau tertabrak kendaraan,atau terjerembab di jalanan karena fasilitas yang buruk,Umar khawatir Allah akan memintai pertanggungjawaban kepadanya di hari kiamat.

Subhanallah,manakala rasa tanggung jawab kepada hewanpun sampai demikian,bagaimana kiranya kepada manusia?Semoga Allah meridhoi dan senantiasa merahmati anda wahai Amirul Mukminin.

Berkaca kepada rakyat indonesia kini,jalan berlubang sehingga banyak yang celaka,banjir,macet,tidak aman di jalanan,dan lain sebagainya.Di klaim sebagai pemimipin yang adil dan amanah.Memang standar ya berbeda.

Pada saat haji terakhir yang ia tunaikan dalam rakyatnya,Umar r.a.duduk bersimpuh kemudian membentangkan ridanya.Ia mengangkat tinggi kedua tangannya ke arah langit.Ia berucap,''Ya Allah.sungguh usiaku telah menua dan ragaku kian melemah,sementara rakyatku semakin banyak (karena wilayah islam meluas),cabutlah nyawaku dalam keadaan tidak disia-siakan,''

Perhatian Pada Rakyatnya

Perhatian Umar pada rakyatnya benar-benar membuat kita kagum dan namanya kian mengharum,mulia bagi mereka pembaca kisah kepemimpinannya.Doa-doa rahmat dan ridha untuknya begitu deras mengalir.Siang malam ia pantau keadaan rakyatnya.Ia benar-benar sadar kepemimpinan itu adalah melayani.Kepemimpinan bukan untuk menaikkan status sosial,menumpuk harta,yang akan menghasilkan kehinaan di akhirat semesta.

Orang hari ini kenal blusukan sebagai ciri pimpinan peduli,Umar sudah melakukannya sejak dulu dengan ketulusan hati.Ia duduk bersama rakyatnya,mengintip keadaan mereka,dan menanyai hajat kebutuhannya.Kepada yang kecil atau yang besar,yang kaya atau yang miskin.Ia tidak pernah memberikan batas kepada mereka semua.

Abdullah Bin Abas R.A Berkata,''Setiap kali shalat,Umar senantiasa duduk bersama rakyatnya.Siapa yang mengadukan suatu keperluan,maka ia segera meneliti keadaannya.Ia terbiasa duduk sehabis shalat subuh hingga matahari mulai naik,melihat keperluan rakyatnya.Setelah itu baru ia kembali ke rumah,''

Sebagian rakyat ada yang merasa enggan mengadukan permasalahannya.Mereka segan karena betapa wibawanya Umar.Kemudian beberapa orang sahabat:Ali Bin Abi Thalib,Utsman Bin Affan,Thalhah Bin Ubaidillah,Zubair Bin Awwam,Abdurrahman Bin Auf,dan Saad Bin Waqqash ingin memberi tahu Umar tentang hal ini.Dan majulah Abdurahman Bin Auf yang paling berani untuk membuka pembicaraan dengan Umar.

Serombongan sahabat ini berkata,''Bagaimana jika engkau (Abdurahman) berbicara kepada Amirul Mukminin.Karena ada orang yang ingin di penuhi kebutuhannya,namun segan untuk berbicara dengannya karena wibawanya.Sehingga ia pun pulang menahan keperluannya,''

Abdurrahman pun menemui Umar dan berbicara kepadanya,''Amirul Mukminin,bersikaplah lemah lembut kepada orang-orang,karena ada orang hendak datang menemuimu,namun suara mereka untuk memberitahu kebutuhan,tercekat oleh wibawamu.Merekapun pulang dan tidak berani bicara,''kata Abdurrahman

Umar r.a.menanggapi,''Wahai Abdurrahman ,aku bertanya kepadamu atasa nama Allah ,apakah Ali,Utsman,Thalhah,az-Zubair,dan saad  yang memintamu untuk menyampaikan hal ini?,''Allahumma na'am,''jawab Abdurrahman.

''Wahai Abdurrahman,demi Allah,aku telah bersikap lemah lembut terhadap mereka sampai aku takut kepada Allah kalau berlebihan dalam hal ini.Aku juga bersikap tegas kepada mereka,sampai aku takut kepada Allah berlebihan dalam ketegasan.Lalu,bagaimana jalan keluarnya,''tanya Umar.Abdurrahman pun menangis.Lalu mengusapkan ridanya menghapus titik air mata.Ia berucap,''Lancan sekali mereka.Lancang sekali mereka.''

adapun bagi masyarakat yang tinggal jauh dari kota madinah,seperti penduduk irak,syam,dll.Umar sering bertanya tentang keadaan mereka,kemudian memenuhi kebutuhan mereka,Umar mengirim utusannya untuk meneliti keadaan orang-orang di luar Madinah.

Terkadang,Umar juga mengadkan kunjungan langsung.Melihat sendiri keadaan rakyat di bawah kepengurusan gubernurnya.Umar memenuhi kebutuhan mereka dengan sungguh-sungguh.Sampai-sampai ia berkeinginan janda-janda yang tidak memiliki orang yang menanggungnya merasa cukup dengan bantuannya sehingga tidak butuh kepada laki-laki lain.

Inilah seorang pemimpin yang memerankan kepemimpinan dalam arti sebenarnya.Ia memberikan teladan dalam perkataan dan perbuatan.seorang yang shalih secara pribadi dan cakap dalam kepemimpinan

Sesuatu yang perlu kita sadari,pemimpin adalah kader dari masyarakatnya.Umar Bin Khattab adalah kader dari masyarakatnya.Dan setiap masyarakat akan mengkader pemimpin mereka sendiri.Masyarakat yang baik akan melahirkan kader yang baik,sehingga sekumpulan kader-kader yang baik ini akan menunjuk yang terbaik di antara mereka untuk memimpin mereka.Dan masyarakat yang jelek akan melahirkan kader yang serba kekurangan.Lalu mereka menunjuk pemimpin berdasarkan hawa nafsu dan kepentingan

SOURCE : kisahmuslim.com

/>

No comments:

Post a Comment